Rabu, 15 November 2017

Agama dan kebudayaan



Agama dan kebudayaan

Agama dan budaya adalah dua hal yang berbeda dalam wilayah masing-masing dan juga akan menemukan kesamaan dalam satu tujuan yang sama. Realitas kehidupan masyarakat yang utamanya masih awam menganggap bahwasanya agama dan budaya adalah hal yang lumrah dan tidak usah diperbincangkan terlalu mendalam. Sebab agama adalah pemberian kostum terhadap ritual dan muamalah yang sudah dijalankan baik nanti kan diberikan kostum yang bagus maupun kostum yang tidak bagus. Sedangkan budaya adalah kesepakatan dari alam semesta yang dilakukan oleh sekumpulan orang dalam satu wilayah. 
Berbicara tentang wilayah agama dalam kehidupan manusia,  bahwasanya yang pertama itu agama bersifat sebagai formalitas artinya segala hal atau perkara sudah diatur dalam sebuah bentuk hokum dan ketentuan yang ada. Hal ini ketika mereka hanya terpaku terhadap sudut pantang formalitas saja maka akan dengan mudah mereka akan menjadi  orang beragama yang kaku, artinya mereka akan sulit menerima sebuah realita di masyarakat yang berbeda atau tidak sesuai dg bentuk formalitas yang ada. Selanjutnya yang kedua tentang subtansi. Subtansi adalah watak atau nilai yang sebenarnya terjadi, artinya agama itu mempunyai subtansi di setiap hokum dan ketentuan dalam wujud formalitas. Bahwa dibalik formalitas itu tersimpan makna yang utama dalam beragama adalah subtansi dalam beragama itu sendiri, ini sangat perlu dipahami oleh kebanyakan orang agar mereka tidak mudah untuk menjadi individu-individu yang suka memvonis salah orang yang berbeda dengan dirinya.
Selanjutnya tentang kebudayaan, Budaya bisa dikatakan sebagai ciri dan kreatifitas dari masing-masing individu maupun kelompok dalam bentuk kesepakatan. Jika kita telusuri asal muasal budaya adalah berasal dari alam semesta yang mana ini diartikan sebagai salah satu media atau asal dimana budaya itu muncul dalam berbagai bentuk. Selanjutnya budaya juga mengandung sebuah norma yang berlaku dan juga menjadi dasar dalam melaksankan budaya itu sendiri. Tidak jauh beda dengan agama, budaya juga mempunyai wilayah yang sama dengan agama yakni sebagai formalitas dan juga subtansi.
Mencoba untuk mencari titik temu antara agama dan budaya yang dikenal sangat sensitive ketika kita melihat realita yang ada bahwasanya konflik agama dan budaya sangat lah ragam dan sering tering terjadi di nusantara. Menggabungkan antara wilayah agama dengan wilayah budaya yakni pertama ketika formalitas dan subtansi dalam beragama dan berbudaya. Yang pertama ketika formalitas dalam agama bertemu dengan formalitas dalam budaya akan menghasilkan berbagai benturan. Diibaratkan ketika batu itu bertemu batu akan menghasilkan berbagai gesekan dengan kemungkinan memunculkan percikan api ketika hal iti terus dilakukan. Benturan ini terjadi karena masing-masing formalitas dalam beragama dan berbudaya hanya terjebak dalam hal materialisasi tanpa mengutamakan nilai-nilai yang luhur dibalik bentuk formalitas yang ada. Alhasil segala konflik antara agama dan budaya disebabkan salah satunya oleh kegagalan ketika menyatukan formalitas agama dan formalitas budaya.
 Dan yang kedua adalah menemukan antara subtansi dari agama dengan subtansi dari budaya. Digambarkan ketika barang-barang lunak seperti permen karet bertemu permen karet akan menghasilkan sebuah hubungan yang lunak tanpa adanya kekerasan dalam keduanya itu. Inti dari segala apapun yang ada di dunia ini dalam wujud yang nampak adalah nilai. Lah, ketika subtansi dalam beragama disatukan dengan subtansi dalam berbudaya akan menghasilkan sebuah cara pemahaman baru tentang keduanya yakni akulturasi (pencampuran dua nilai atau lebih dan saling mempengaruhi). Akulturasi ini dianggap sebagai salah satu jalan untuk menengahi dan menggabungkan berbagai hal yang terkandung di dalam agama dan budaya.




Jumat, 27 Oktober 2017

            Dewasa ini pendidikan adalah sebuah kebutuhan yang paling penting dan berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Tanpa adanya pendidikan seseorang akan sulit untuk bersaing dengan lingkungan sekitarnya. Pendidikan menjadi acuan dalam menilai kemampuan seseorang dalam hal intelektualitas disamping dengan kinerja dan pengabdian yang nyata. Apalagi di jaman globalisasi ini yang menuntut masyrakat untuk lebih kompleks dan dinamis. Era ini menuntut partisipasi semua pihak untuk terlibat di dalamnya. Setiap orang tidak hanya dituntut untuk menguasai bidangnya saja tetapi mampu berintregasi pada bidang lain. Oleh karena itu diperlukan suatu sikap kepekaan yang tinggi terhadap keadaan di luar dirinya.
 “Mahasiswa” menjadi kata yang sakral dan memiliki beragam arti. Banyak yang mengartikan mahasiswa sebagai agen perubahan, penyambung lidah rakyat, dan tombak penentu bangsa. Memang demikian, karena mayoritas mahasiswa adalah pemuda, dan orang akan melihat pemuda untuk mengukur maju atau tidaknya sebuah negara di masa depan. Peranan mahasiswa pada era ini sangat diperlukan mengingat mereka kaum-kaum terpelajar yang masih penuh dengan semangat dan cita-cita. Untuk itu diperlukan mahasiswa yang mempunyai jiwa kepekaaan terhadap perubahan lingkungannya, mempunyai sifat yang dapat mengontrol dirinya serta dapat membawa aspirasi rakyat untuk diperjuangkan. Tapi apakah kenyataannya demikian? Semakin ke sini banyak mahasiswa yang "nyleweng" dari harapan banyak orang. Kebanyakan mahasiswa sekarang hanya mementingkan kebutuhannya sediri, apatis bahkan pragmatis. Semakin acuh tak acuh dengan keadaan sekitar. Di saat kondisi negara yang semakin hari semakin memprihatinkan. Politik tidak stabil, ekonomi lesu, dan sempitnya lapangan pekerjaan. Ahirnya, rakyatlah yang semakin menderita. Itulah Pekerjaan Rumah (PR) sebenarnya yang harus mahasiswa selesaikan.
Menguntip pesan Victor Serge untuk mahasiswa. “Kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheran tidak adil? Dokter, untuk mempertahankan kesehatan kaum kaya, dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik kepada mereka yang memangsa kaum miskin? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman bagi tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu, dan periksa hati nuranimu. Apakah kau tak mengerti bahwa tugasmu adalah sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas, dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang kejam. Ini sudah jelas bahwa pekerjaan utama mahasiswa adalah tidak hanya masuk kelas, mendengarkan ceramah dosen, dan dapat ijasah. Akan tetapi mahasiswa harus berani membela kaum tertindas, "respect", dan kritis terhadap segala kebijakan pemerintah yang hanya menguntungkan cukong-cukong kaya dan menyengsarakan rakyat.
Untuk bersekutu dengan kaum tertindas, mahasiswa tidak harus turun ke jalan: demo dan bakar ban, akan tetapi cukup dengan mengimplementasikan ilmu dan "skill" yang mereka miliki kepada masyarakat secara sungguh-sungguh. Dan itu merupakan kontribusi nyata mahasiswa untuk masyarakat. Karena poin utamanya adalah implementasi itu sendiri. Mahasiswa jurusan ilmu politik misalkan, dengan "skill" dan Ilmu yang mereka miliki di bidang politik, mereka bisa berkontribusi langsung di dunia perpolitikan negeri ini dengan memunculkan kebijakan-kebijakan politik baru yang menguntungkan semua orang ketika telah memegang kekuasaan, yakni pemerintah. Sama halnya mahasiswa jurusan agama, dengan ilmu agama yang dimiliki, mereka harus mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat luas tentang bagaimana beragama yang bijak. Yang tidak suka mengkafirkan dan menyalahkan golongan lain yang tidak sefaham. Karena faham-faham seperti inilah yang menjadi cikal-bakal suburnya organisasi-organisasi radikal vandalis seperti ISIS, dan organiasasi radikal lainnya yang ada di Indonesia. Begitu juga dengan mahasiswa jurusan ekonomi, kedokteran dsb.
Alangkah indahnya negeri ini ketika semua mahasiswa mau peduli, tidak apatis dan turut berkontribusi terhadap kesejahteraan kaum tertindas. Menjadi garda terdepan terhadap semua kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak ke rakyat, mampumenjadi inisiator penggerak kemajuan dalam hal teknologi. Poin seperti inilah yang seharusnya mahasiswa capai. Karena sejatinya mahasiswa yang seperti inilah yang menjadi idaman masyarakat indonesia. Dan untuk semua mahasiswa yang ada di Indonesia, marilah berkontribusi mewujudkan cita-cita kaum tertindas dan menjadi mahasiswa idaman.




Agama dan kebudayaan

Agama dan kebudayaan Agama dan budaya adalah dua hal yang berbeda dalam wilayah masing-masing dan juga akan menemukan kesamaan dala...