Agama dan kebudayaan
Agama dan budaya adalah dua hal yang berbeda dalam
wilayah masing-masing dan juga akan menemukan kesamaan dalam satu tujuan yang
sama. Realitas kehidupan masyarakat yang utamanya masih awam menganggap
bahwasanya agama dan budaya adalah hal yang lumrah dan tidak usah
diperbincangkan terlalu mendalam. Sebab agama adalah pemberian kostum terhadap
ritual dan muamalah yang sudah dijalankan baik nanti kan diberikan kostum yang
bagus maupun kostum yang tidak bagus. Sedangkan budaya adalah kesepakatan dari
alam semesta yang dilakukan oleh sekumpulan orang dalam satu wilayah.
Berbicara tentang wilayah agama dalam kehidupan
manusia, bahwasanya yang pertama itu
agama bersifat sebagai formalitas artinya segala hal atau perkara sudah diatur
dalam sebuah bentuk hokum dan ketentuan yang ada. Hal ini ketika mereka hanya
terpaku terhadap sudut pantang formalitas saja maka akan dengan mudah mereka
akan menjadi orang beragama yang kaku,
artinya mereka akan sulit menerima sebuah realita di masyarakat yang berbeda
atau tidak sesuai dg bentuk formalitas yang ada. Selanjutnya yang kedua tentang
subtansi. Subtansi adalah watak atau nilai yang sebenarnya terjadi, artinya
agama itu mempunyai subtansi di setiap hokum dan ketentuan dalam wujud
formalitas. Bahwa dibalik formalitas itu tersimpan makna yang utama dalam
beragama adalah subtansi dalam beragama itu sendiri, ini sangat perlu dipahami
oleh kebanyakan orang agar mereka tidak mudah untuk menjadi individu-individu
yang suka memvonis salah orang yang berbeda dengan dirinya.
Selanjutnya tentang kebudayaan, Budaya bisa dikatakan
sebagai ciri dan kreatifitas dari masing-masing individu maupun kelompok dalam
bentuk kesepakatan. Jika kita telusuri asal muasal budaya adalah berasal dari
alam semesta yang mana ini diartikan sebagai salah satu media atau asal dimana
budaya itu muncul dalam berbagai bentuk. Selanjutnya budaya juga mengandung
sebuah norma yang berlaku dan juga menjadi dasar dalam melaksankan budaya itu
sendiri. Tidak jauh beda dengan agama, budaya juga mempunyai wilayah yang sama
dengan agama yakni sebagai formalitas dan juga subtansi.
Mencoba untuk mencari titik temu antara agama dan
budaya yang dikenal sangat sensitive ketika kita melihat realita yang ada
bahwasanya konflik agama dan budaya sangat lah ragam dan sering tering terjadi
di nusantara. Menggabungkan antara wilayah agama dengan wilayah budaya yakni
pertama ketika formalitas dan subtansi dalam beragama dan berbudaya. Yang
pertama ketika formalitas dalam agama bertemu dengan formalitas dalam budaya
akan menghasilkan berbagai benturan. Diibaratkan ketika batu itu bertemu batu
akan menghasilkan berbagai gesekan dengan kemungkinan memunculkan percikan api
ketika hal iti terus dilakukan. Benturan ini terjadi karena masing-masing
formalitas dalam beragama dan berbudaya hanya terjebak dalam hal materialisasi
tanpa mengutamakan nilai-nilai yang luhur dibalik bentuk formalitas yang ada.
Alhasil segala konflik antara agama dan budaya disebabkan salah satunya oleh
kegagalan ketika menyatukan formalitas agama dan formalitas budaya.
Dan yang kedua
adalah menemukan antara subtansi dari agama dengan subtansi dari budaya. Digambarkan
ketika barang-barang lunak seperti permen karet bertemu permen karet akan
menghasilkan sebuah hubungan yang lunak tanpa adanya kekerasan dalam keduanya
itu. Inti dari segala apapun yang ada di dunia ini dalam wujud yang nampak
adalah nilai. Lah, ketika subtansi dalam beragama disatukan dengan subtansi
dalam berbudaya akan menghasilkan sebuah cara pemahaman baru tentang keduanya
yakni akulturasi (pencampuran dua nilai atau lebih dan saling mempengaruhi).
Akulturasi ini dianggap sebagai salah satu jalan untuk menengahi dan
menggabungkan berbagai hal yang terkandung di dalam agama dan budaya.