Jumat, 27 Oktober 2017

            Dewasa ini pendidikan adalah sebuah kebutuhan yang paling penting dan berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Tanpa adanya pendidikan seseorang akan sulit untuk bersaing dengan lingkungan sekitarnya. Pendidikan menjadi acuan dalam menilai kemampuan seseorang dalam hal intelektualitas disamping dengan kinerja dan pengabdian yang nyata. Apalagi di jaman globalisasi ini yang menuntut masyrakat untuk lebih kompleks dan dinamis. Era ini menuntut partisipasi semua pihak untuk terlibat di dalamnya. Setiap orang tidak hanya dituntut untuk menguasai bidangnya saja tetapi mampu berintregasi pada bidang lain. Oleh karena itu diperlukan suatu sikap kepekaan yang tinggi terhadap keadaan di luar dirinya.
 “Mahasiswa” menjadi kata yang sakral dan memiliki beragam arti. Banyak yang mengartikan mahasiswa sebagai agen perubahan, penyambung lidah rakyat, dan tombak penentu bangsa. Memang demikian, karena mayoritas mahasiswa adalah pemuda, dan orang akan melihat pemuda untuk mengukur maju atau tidaknya sebuah negara di masa depan. Peranan mahasiswa pada era ini sangat diperlukan mengingat mereka kaum-kaum terpelajar yang masih penuh dengan semangat dan cita-cita. Untuk itu diperlukan mahasiswa yang mempunyai jiwa kepekaaan terhadap perubahan lingkungannya, mempunyai sifat yang dapat mengontrol dirinya serta dapat membawa aspirasi rakyat untuk diperjuangkan. Tapi apakah kenyataannya demikian? Semakin ke sini banyak mahasiswa yang "nyleweng" dari harapan banyak orang. Kebanyakan mahasiswa sekarang hanya mementingkan kebutuhannya sediri, apatis bahkan pragmatis. Semakin acuh tak acuh dengan keadaan sekitar. Di saat kondisi negara yang semakin hari semakin memprihatinkan. Politik tidak stabil, ekonomi lesu, dan sempitnya lapangan pekerjaan. Ahirnya, rakyatlah yang semakin menderita. Itulah Pekerjaan Rumah (PR) sebenarnya yang harus mahasiswa selesaikan.
Menguntip pesan Victor Serge untuk mahasiswa. “Kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheran tidak adil? Dokter, untuk mempertahankan kesehatan kaum kaya, dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik kepada mereka yang memangsa kaum miskin? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman bagi tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu, dan periksa hati nuranimu. Apakah kau tak mengerti bahwa tugasmu adalah sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas, dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang kejam. Ini sudah jelas bahwa pekerjaan utama mahasiswa adalah tidak hanya masuk kelas, mendengarkan ceramah dosen, dan dapat ijasah. Akan tetapi mahasiswa harus berani membela kaum tertindas, "respect", dan kritis terhadap segala kebijakan pemerintah yang hanya menguntungkan cukong-cukong kaya dan menyengsarakan rakyat.
Untuk bersekutu dengan kaum tertindas, mahasiswa tidak harus turun ke jalan: demo dan bakar ban, akan tetapi cukup dengan mengimplementasikan ilmu dan "skill" yang mereka miliki kepada masyarakat secara sungguh-sungguh. Dan itu merupakan kontribusi nyata mahasiswa untuk masyarakat. Karena poin utamanya adalah implementasi itu sendiri. Mahasiswa jurusan ilmu politik misalkan, dengan "skill" dan Ilmu yang mereka miliki di bidang politik, mereka bisa berkontribusi langsung di dunia perpolitikan negeri ini dengan memunculkan kebijakan-kebijakan politik baru yang menguntungkan semua orang ketika telah memegang kekuasaan, yakni pemerintah. Sama halnya mahasiswa jurusan agama, dengan ilmu agama yang dimiliki, mereka harus mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat luas tentang bagaimana beragama yang bijak. Yang tidak suka mengkafirkan dan menyalahkan golongan lain yang tidak sefaham. Karena faham-faham seperti inilah yang menjadi cikal-bakal suburnya organisasi-organisasi radikal vandalis seperti ISIS, dan organiasasi radikal lainnya yang ada di Indonesia. Begitu juga dengan mahasiswa jurusan ekonomi, kedokteran dsb.
Alangkah indahnya negeri ini ketika semua mahasiswa mau peduli, tidak apatis dan turut berkontribusi terhadap kesejahteraan kaum tertindas. Menjadi garda terdepan terhadap semua kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak ke rakyat, mampumenjadi inisiator penggerak kemajuan dalam hal teknologi. Poin seperti inilah yang seharusnya mahasiswa capai. Karena sejatinya mahasiswa yang seperti inilah yang menjadi idaman masyarakat indonesia. Dan untuk semua mahasiswa yang ada di Indonesia, marilah berkontribusi mewujudkan cita-cita kaum tertindas dan menjadi mahasiswa idaman.




Agama dan kebudayaan

Agama dan kebudayaan Agama dan budaya adalah dua hal yang berbeda dalam wilayah masing-masing dan juga akan menemukan kesamaan dala...